2013/12/31

LOMBA NULIS KILAT-MIRACLES in DECEMBER



Miracles in December

     Mei telah berakhir, dan kini bergantilah dengan Juni. Sepertinya hujan menyambut Juni dengan agak kurang begitu menyenangkan dan hal itu tampak di benakku. Aku melihat hujan yang mengalir deras pada jendela kamarku sambil ditemani dengan secangkir susu coklat hangat dan sebuah novel yang kuletakkan di atas meja belajarku. Lampu belajarkupun menyala menerangi kamarku yang terlihat begitu gelap bila tidak dinyalakan lampu samasekali.
     Sebenarnya aku menginginkan satu permintaan di bulan ini karena aku sangat menyukai bulan Juni, jadi kuharap di bulan yang aku sukai harapanku dapat terkabulkan. Derasnya hujan yang kulihat melalui jendela kamar membuatku berkhayal yang tidak-tidak. Aku menginginkan untuk mengakhiri hidup. Terdengar mengerikan, namun aku merasa hidupku kurang beruntung seperti yang ada saat ini.
     Mama sering memarahiku karena sifatku yang seenaknya dan sering pulang agak malam. Ayah selalu saja berada di kantor, Ayah selalu bangun ketika aku sudah berangkat ke kampus dan Ayah pulang disaat aku sudah tidur karena Ayah pulang lebih larut dariku. Mungkin disaat aku tidak kuliah pagi, aku bisa menyapa Ayah jika aku bisa bangun pagi. Tugasku selalu bertumpuk dan aku sering menunda-nunda pekerjaan itu, tapi tugasku selalu selesai tepat waktu. Yang menguntungkan hanyalah aku jarang sekali dimarahi oleh dosenku, dan aku memiliki teman yang banyak dan mudah mengerti diriku.
     Aku memperbaiki letak kacamataku dan mulai membuka novel yang telah kusiapakan setelah aku selesai berkhayal dengan hal yang sebenarnya sudah terjadi. Aku membaca sebuah novel romansa yang ditulis oleh salah satu penulis favoritku. Kehidupan di dalam cerita novel tersebut terlihat sangat menyenangkan karena happy endingnya yang sangat indah menurutku. Satu setengah jam telah kuhabiskan waktuku untuk novel itu, dan kurasa waktuku habis dengan kegiatan yang menguntungkan.
     Ingin sekali aku menggarap tugas-tugasku yang belum rampung itu, namun ada sesuatu yang menyuruhku untuk mengerjakan tugas itu di luar rumah. Sesegera mungkin aku mengkemasi barang-barang yang ingin aku bawa dan langsung ke luar rumah tanpa pamit pada Mama. Dan untung saja hujan deras yang cukup sering melanda kota Bandung ini sudah berakhir.
     “Mau pergi ke mana kamu sore-sore begini?” Rupanya Mama mengetahui kepergianku dan mencoba untuk menginterogasiku.
     “Mau ngerjain tugas bareng temen-temen, Ma” Aku menjawab dengan sedikit kebohongan karena bisa-bisa Mama tidak mempercayaiku.
     “Serius, kamu mau ngerjain tugas bareng temen-temen?” Tuhkan, aku berkata seperti itu saja Mama tidak mempercayaiku apalagi kalau aku berkata bahwa aku akan pergi kuliah.
     Sepertinya ini sangat keterlaluan. Aku mencoba untuk meyakinkan Mama meski Mama berkata hal yang sama tiap kali aku menjelaskannya. Dan satu lagi ocehan Mama yang membuatku sangat bosan, ‘jangan pulang larut malam lagi ya, Nadia’. Kapan sih, Mama bisa mengerti kalau aku ini sudah besar dan bisa menjaga diriku sendiri. Aku sangat bosan karena sejak Mama melihat aku selalu pulang malam, Mama pasti akan berkata padaku untuk hati-hati dan jangan sampai pulang malam meskipun aku sendiri selalu melakukannya. Dan karena aku sudah terlalu sering merasa jengkel, ocehan Mama yang menurutku menyebalkan itu kutanggapi dengan jawaban yang sangat singkat, ‘iya’.
     Aku lalu memasuki mobilku dan menaruh tasku berada di sampingku. Aku menghela nafasku sebentar kemudian menginjakan kakiku pada pijakan gas mobil. Kujalankan mobilku untuk pergi ke salah satu cafe di Bandung. Dan sesegera mungkin saat aku tiba, aku langsung membuka laptopku dan menyalakan WiFi yang tersedia di cafe ini. Seorang pelayan mengagetkanku karena kedatangannya yang tiba-tiba itu, dan saat itu aku baru tersadar bahwa aku belum sempat memesan apapun di cafe tersebut.
     Aku lebih memilih untuk memesan cofee karena aku tahu aku akan berada agak lama dan sampai agak malam di cafe ini, dan aku juga memilih kentang goreng keju sebagai pelengkapnya. Sudah hampir dua jam aku berada di cafe ini sejak jam enam sore tadi, dan sekarang sudah jam delapan malam. Aku melihat cangkir dan piring milikku yang tadi kugunakan sebagai tempat minum dan makananku kini sudah lenyap tanpa sisa.
     Aku masih ingin berada di sini, tapi aku juga malas kalau harus mengerjakan tugas terus-terusan. Aku melihat tugasku lagi di layar laptop dan kemudian berganti untuk membuka internet. Tugasku sudah hampir selesai, jadi kuputuskan untuk istirahat sejenak dan memulai untuk refreshing dengan  melihat akun twitterku. Ada banyak notifikasi yang diberitahukan di sana. Mungkin aku jarang membuka akun twitterku ini, tapi aku lebih sering untuk meng-update status ketimbang melihat status orang lain.
     Oke, di timeline milikku ada banyak sekali tweet dari beberapa percakapan yang dilakukan oleh teman-temanku. Dan aku terkejut saat melihat salah satu tweet yang ditulis oleh Rafi temanku. Tweet itu berisi beberapa kalimat pernyataan selamat tinggal yang ditujukan oleh beberapa temanku. Tak lama kemudian ada bunyi pemberitahuan di twitterku. Dari Rafi rupanya.
     Nad, gue mau pamit sama lo soalnya gue mau pergi kuliah di luar negeri. Gue mohon lo jaga diri lo baik-baik ya, gue pasti bakalan kangen banget sama lo. God bless~ @NadiaMelati. Itu adalah mention yang diberikan Rafi untukku. Kata-katanya terdengar sangat berbeda dari kalimat yang aku lihat untuk ditujukan oleh temanku yang lain. Aku belum sempat membalasnya, malah sudah ada temanku yang membalas tweet itu. Katanya cielah, pura-pura berdeham, pura-pura batuk, dan apalah itu. Dan aku rasa, mereka sedang menyindirku dengan Rafi.
     Rafi sama sekali tidak membalas mereka meskipun aku tahu Rafi masih online saat itu. Aku bahkan juga tidak mau membalasnya karena aku merasa malu akan balasan teman-teman untuk tweetnya Rafi itu. Aku lebih memilih untuk menelepon Rafi saat itu juga.
     Ku ambil handphoneku dan kucari nama ‘Rafi’ pada kontak lalu aku tekan tombol hijau bergambar telephone. Terdengar nada sambung pada Hpku itu dan tidak lama kemudian kudengar sebuah suara yag familier di telingaku.
     “Halo, Nad” Rafi telah menjawab pangilanku, dan aku dibuat gembira olehnya. Akupun menjawabnya dengan agak gugup.
     “Ha-ha-halo, Raf. Gue enggak nggangu lo ‘kan?” Huft, aku merasa gembira bisa menyelesaikan sebuah kalimat untuk aku katakan pada Rafi.
     “Oh, enggak kok nyantai aja. Ngomong-ngomong ada apa ya telepon gue ?”
     “Oh, bagus deh kalau gitu. Jadi... gini, gue udah liat mention lo yang lo kirim ke gue. Lo serius mau pergi, Raf ?”
     “Iya, sorry kalau gue dadakan kasih tahunya. Ehm.. soal balesan dari temen-temen enggak usah lo peduliin ya” Terdengar sedikit tawa malu dari Rafi di telepon. Dia pasti dibuat sangat malu oleh teman-teman.
     “Enggak apa-apa kok. Tenang aja, gue enggak memperdulikan mereka. Oh iya, kenapa lo mau pergi? Kayaknya sebelumnya enggak ada apa-apa deh, Raf.”
     “Jadi, gue disuruh orangtua gue buat kuliah di luar soalnya mereka pengin kasih yang terbaik buat gue. Dan mereka juga pengin kalau gue itu jadi penerusnya Papa di perusahaannya. So, mau enggak mau gue harus turutin keinginan mereka yang menurut gue juga berguna buat gue.” Sekali lagi aku hanya bisa menanggapi penjelasan Rafi denga ber-oh, tapi aku juga melanjutkan kalimatku.
     “Terus, lo kapan mulai pergi dan kapan lo balik lagi ke tanah air?”
     “Gue bakalan berangkat besok siang. Kalau soal balik, gue belum tahu soalnya gue bakalan nyesuaiin jadwal balik dengan libur yang ada di sini.”
     “Jadi, kira-kira lo bakalan balik setengah tahun lagi dong?”
     “Hm... bisa jadi.” Kini aku mulai agak panik karena aku akan lama tidak bertemu dengan Rafi. Tapi, mengapa jantung ini berdegup sangat kencang saat Rafi mengatakan hal itu. Dan, hatiku merasa sangat sedih dengan semua ini. Tanpa sadar mataku langsung mengeluarkan tetesan air yang ternyata adalah air mataku sendiri.
     “Halo. Nadia, lo enggak apa-apa kan? Lo nangis?” Aku agak sesenggukan waktu itu, jadi mungkin Rafi bisa mendengar tangisanku dan berfikir bahwa aku sedang menangis. Dengan sekuat tenaga aku menjawab pertanyaan Rafi bahwa aku tidak sedang menangis. Biasanya orang yang menangis suaranya akan terlihat berbeda dari sebelumnya, jadi aku agak takut kalau kedokku akan terbuka bahwa sebenarnya aku sedang menangis. Sekali lagi Rafi bertanya apa aku tidak apa-apa, dan aku berusaha untuk meyakinkannya.
     “Ya udah ya, Raf udah malem nih gue mau tidur dulu. Night ya buat lo, nice dream. Semoga besok perjalanan lo bisa lancar.” Rafi menjawabku dengan penuh terimakasih dan membalas salamku, walau sebenarnya aku belum akan tidur. Bagaimana mungkin aku tidur di cafe, bisa-bisa aku disangka tidak waras oleh banyak orang yang berada di cafe tersebut.
***
     Sedih. Kenapa aku bisa sedih? Kenapa aku bisa menangis sampai sesenggukan seperti ini? Aku tidak mungkin suka pada Rafi. TIDAK TIDAK dan TIDAK. Rafi itu sahabatku dan aku tidak mungkin suka pada Rafi. Ini pasti hanya perasaan sedihku saja karena Rafi akan meingalkan tanah air.
     Jam sembilan malam tadi kuputuskan untuk meninggalkan cafe karena aku merasa sudah cukup lelah saat itu. Tidak seperti biasanya, biasanya aku bisa betah pergi hingga jam sepuluh dan tidur hingga tengah malam. Mamapun juga merasa heran dengan kepulanganku yang Mama rasa cukup cepat. Aku bahkan tertidur di jam sepuluh. Tepat saat aku telah tiba di rumah.
     Besokan hari Minggu, Rafi yakin beneran mau pergi besok? Dia kok dadakan banget sih bilangnya? Hih, bikin sebel aja. Lho, kok aku malah jadi memikirkan Rafi sampai seperti ini, sih. Terserah Rafilah kalu dia mau berangkat kapan itu kan urusan dia, mengapa jadi aku yang protes?Argh, lebih baik aku tidur saja.
***
    Pagi ini aku bangun kesiangan untuk hari Minggu. Tidurkupun terasa tidak nyenyak tadi malam. Ini sangat terlihat jelas kalau aku sedang memikirkan Rafi tadi malam. Ah, sudahlah tidak usah membahas hal itu lagi. Aku rasakan sinar matahari yang masuk melewati celah gorden jendelaku dan ku putuskan untuk membuka gorden jendelaku. Aku melihat pemandangan di luar sana. Ada banyak burung yang berterbangan ke sana ke mari. Dan bunga-bungapun terlihat banyak yang bermekaran pagi ini.
     Aku berasa penatku telah hilang semua dan terganti oleh pemandangan ini. Rumahku memiliki cukup banyak tanaman, jadi tidak salah kalau jadi ada banyak burung di halaman rumahku. Sudah cukup melihat ini semua, waktunya aku bersiap untuk keluar rumah. Keluar rumah lagi? Mungkin kau akan banyak bertanya jika belum tahu seperti apa aku. Aku suka traveling. Jadi, karena aku belum memiliki banyak uang untuk pergi sampai tempat yan cukup jauh aku putuskan untuk sering-sering pergi keluar rumah mencari tempat baru.
     Sekarang jam dua siang. Mungkin kalian tidak tahu bahwa tadi aku bangun jam sebelas siang. Dan aku memutuskan untuk pergi agak sore karena cuaca yang menyenangkan di jam seperti ini. Aku harap Mama tidak mengetahui kepergianku yang sering membuat aku pusing karena pasti Mama akan mengomel padaku.
     Mobil sudah siap, kunci mobil sudah di tangan, dan barang-barang yang akan ku bawa sudah ku taruh di tasku. Oke, tinggal masuk ke mobil dan menginjak gas lalu aku keluar dari rumah ini. Hal itu sudah berhasil ku lakukan dan kini aku harus pergi ke mana. Pikiranku masih saja seperti itu hingga aku sampai di lampu merah perempatan pertama yang jaraknya agak jauh dari rumahku.
     Tiba-tiba saja Hpku berdering. Awalnya aku pikir itu Mama, tapi tiap kali Mama meneleponku tidak pernah sampai beberapa kali. Saat aku ingin mengangkatnya, telepon itu justru berhenti. Kulihat pada daftar panggilan ternyata Rafi yang meneleponku. Ada apa Rafi meneleponku? Setelah berfikir agak panjang aku memutuskan untuk membalas Rafi dengan memeberikannya sebuah pesan singkat.
     Raf, lo ngapain telepon gue? Sambil melanjutkan perjalanan, aku juga mencoba untuk menelepon temanku, Vita untuk menemaniku pergi. Aku bertanya pada Vita apakah dia bisa menemaniku sekarang. Untunglah dia bisa menemaniku dan sekarang aku akan menuju ke rumah Vita untuk menjemputnya.
     Hpku berdering lagi. Ada pesan masuk rupanya, itu pasti dari Rafi. Di dalam pesan singkat itu Rafi menuliskan kalau dia akan segera berangkat ke bandara. Dan aku hanya membalasnya dengan singkat kalau dia lebih baik berhati-hati di jalan dan semoga sukses di sana. Oh iya, tidak lupa aku mengirim pesan tambahan yang berisi agar dia tidak melupakan aku dan teman-teman di sini.
     Aku sudah sampai di rumah Vita dan aku masuk ke dalam rumahnya. Tapi sepertinya dia telah bersiap di depan rumahnya. Dia menyapaku dan aku juga balas menyapanya. Mungkin Hpku sedang berdering sekarang karena aku tidak membawa Hpku ikut serta menemui Vita.
     “Hey, kita mau ke mana sih, Nad?”
     “Gue Cuma pengin pergi aja kok, gue males di rumah. Jadi gue cari temen buat nemenin gue.”
     “Oh, gitu. Ya udah yuk pergi” Kami memasuki mobil bersama dan aku menyuruh Vita untuk menyetir mobilku. Awalnya dia tidak mau tapi aku memohon dengan wajah agak dibuat melas dan akhirnya Vita luluh juga terhadapku.
     “Pantes lo banyak yang suka, muka lo melas banget soalnya. Jadi para cowok itu pada kasihan sama lo.” Vita tertawa saat mengatakan hal itu padaku. Dan memasang wajah penuh kemenangan.
     “Enak aja lo. Mereka itu suka sama gue karena gue imut tau bukan melas.” Kini aku yang ganti tertawa karena ocehanku sendiri. Dan Vita terlihat geli denganku.
     “Iya iya. Yang mentang-mentang punya lesung di pipinya terus pake kacamata yang menurut lo itu jadi kelihatan imut. Idih samai-sampai para cowok jadi banjir air liur gara-gara lo.” Aku memandangi Vita saat itu dan saat Vita ikut menoleh ke arahku kami tertawa bersama.
     “Ha-ha-ha. Apaan sih lo, enggak segitunya juga kali, Vit. Ha-ha-ha.” Vita juga terlihat menyembunyikan tawanya dari hadapanku. Memang dasar sifat Vita yang ku kenal sejak aku SMA tidak pernah hilang hingga sekarang. Setelah kami berbincang beberapa saat aku baru ingat kalau aku memiliki sebuah pesan yang pasti telah dibalas oleh Rafi.
     Rafi membalas pesan dariku yang membuat aku tersenyum-senyum sendiri dan membuat Vita terheran dengan sikapku. Dia bertanya padaku apa yang sedang ku lakukan, tapi aku hanya berkata tidak apa-apa padanya yang pasti membuatnya ingin merebut Hpku dari genggamanku. Kebetulan saat itu sedang lampu merah dan hal ini digunakan Vita untuk melaksanakan rencananya, mengambil HPku.
     Vita berhasil mengambilnya dan dia membaca pesanku dengan Rafi. Vita lalu tersenyum dan menyindir ku dengan Rafi.
     “Ehem Ehem... Punya hubungan apa lo sama Rafi? Aku menjawab bahwa aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Rafi dan aku berusaha untuk mengambil Hpku kembali dari genggaman Vita.
     TIINN TIINN... Suara klakson itu terdengar jelas olehku dan Vita. Ternyata lampu yang tadinya merah sudah berubah menjadi hijau. Vita sesegera mungkin menginjakan kakinya pada pijakan gas dan mengarahkan mobilku ke tempat yang akan kami lalui. Kamipun lalu tertawa bersama. Hanya karena HPku jadilah seperti ini. Hm.. bukan karena HP, tapi karena Rafi.
     Kami diam beberapa saat dan aku lalu ingin berkata sesuatu pada Vita.
     “Ehm.. gue mau ngomong sesuatu, Vit”
     “Ehm.. gue mau ngomong sesuatu, Nad” Kami mengatakan hal itu secara bersamaan dan akhirnya kami tertawa bersama. Kamipun langsung menyuruh salah satu diantara kami untuk berbicara terlebih dahulu. Dan akhirnya aku yang harus berbicara dulu karena desakan dari Vita.
     “Vit, lo udah tahu belum kalau Rafi mau pindah kuliah ke luar negeri?” Vita terlihat kaget saat aku membicarakan hal itu. Mungkin dia memang belum tahu akan kepergian Rafi yang terbilang mendadak ini.
     “Lho, kok bisa sama sih? Gue tadi juga pengin ngomongin hal ini ke lo, Nad.” “Iya, gue udah tahu. Tapi gue tahu bukan dari si Rafi tapi statusnya temen-temen di socmed, Nad.”
     “Hah? Lo enggak di kasih tahu sama Rafi, Vit?” Vita menggeleng, dan wajahnya terlihat sangat kecewa. Dan aku rasa wajah kekecewaan itu akan diberikan Vita untuk Rafi.
     Vita mengatakan seluruh kekecewaannya padaku. Dia tidak menyangka kalau Rafi sampai seperti itu pada temannya sendiri yaitu Vita. Aku mencoba menghibur Vita dengan mengatakan kalau mungkin saja Rafi hanya lupa karena temannya bukanlah hanya Vita. Tapi Vita mengelaknya karena kami berdua ini sangat dekat, jadi pasti Rafi akan dengan mudah mengingat kami berdua karena kedekatan kami.
     Dan satu lagi pernyataan Vita yang membuatku kaget saat mendengarnya adalah, Vita menyukai Rafi.
***
     Aku sama sekali tidak menyangka kalau Vita menyukai Rafi. Dia bahkan tidak pernah bercerita padaku. Saat kami berdua pergi bersama, Vita mencurahkan semua isi hatinya kepadaku dan aku hanya bisa mendengarkannya. Vita benar-benar menyukai Rafi, dia bahkan mengetahui segalanya tentang Rafi. Sedangkan aku yang juga sahabatnya saja hanya mengetahui satu hal yang tidak terlalu besar dari Rafi, yaitu kepindahannya ke luar negeri.
     Aku merasa sangat bersalah ketika Vita mendapatkan HPku ketika perjalanan di dalam mobil. Vita pasti menutupi kecemburuannya dariku. Aku tahu, pasti dia tidak mau membuatku marah kalau misalkan aku memang sedang pacaran ataupun menyukai Rafi. Tapi setelah Vita tahu kalau aku hanyalah sahabat Rafi, dia menyatakan segalanya padaku.
     Dia bahkan tidak malu menyatakan kalau sebenaranya dia terbakar api cemburu ketika melihat pesan singkat yang aku dan Rafi kirim. Tapi, maafkan aku Vita. Sepertinya aku juga menyukai Rafi meskipun aku belum tahu apakah perasaan ini memang untuk Rafi atau hanyalah kekhawatiranku pada Rafi karena dia akan pergi ke luar negeri.
***
6 Bulan kemudian...
     Bulan ini adalah bulan Desember. Dan pastinya hujan yang deras akan lebih sering mengguyur kota Bandung ini. Hari awal pada bulan inipun sudah disambut dengan gerimis yang cukup lama mengguyur kota Bandung. Aku baru saja pulang dari kampus sore ini karena aku kuliah siang.
     Rumah terlihat sepi saat aku kembali dari kampus. Gerimis yang disertai mendung dengan warna abu-abu pekat ini membuatku merinding saat aku memasuki rumah menggunakan kunci cadangan yang diberikan Mama padaku karena aku sering pulang malam. Lampu di dalam rumahpun belum dinyalakan, apalagi lampu teras rumah.
     Tanpa basa-basi aku langsung masuk ke kamarku tanpa menyalakan sedikitpun lampu kecuali lampu di dalam kamarku sendiri yang akan kunyalakan. Tapi, saat tombol lampu kunyalakan lampu kamarku sama sekali tidak mau menyala. Oh, menyebalkan. Sekarang mati lampu!
     Kalau begini caranya apa yang harus dilakukan dalam situasi mati lampu? Dalam kegelisahanku tiba-tiba saja HPku berdering. Aku terkejut saat melihat nama yang tertera di HPku. Rafi?
     “Halo. Ini Nadia ‘kan?”
     “Halo, Raf. Iya gue Nadia” Hatiku berdegup agak kencang ketika aku mendengar suara Rafi di seberang sana.
     “Seneng deh kalau ini masih nomor lo. Oh iya gimana kabar lo di sana? Baik ‘kan lo?”
     “Lo kali yang gimana kabarnya. Gila, gue seneng banget lo telepon gue sekarang. Lama ya kita enggak ketemu” Jujur, aku benar-benar sangat bahagia waktu Rafi menanyakan kabarku. Dan aku merasa lega dia masih menyimpan nomorku setelah setengah tahun ini.
     Rafi menceritakan rencana kepulangannya ke tanah air bulan ini. Dan pada tahun baru nanti Rafi akan menyewa Bukit Bintang di Bandung sebagai tempatnya. Aku agak tidak percaya pada perkataan Rafi. Dia bilang akan ada banyak kejutan di bukit itu.
     “... Dan bahkan kamu enggak akan pernah melupakan malam tahun baru yang akan datang nanti, Nad” Aku agak tertawa mendengar perkataan Rafi. Bagaimana bisa aku tidak melupakannya kalau malam tahun baru yang sering kali aku rayakan dengan kemeriahan pasti akhirnya aku melupakannya. Beberapa saat kami berbincang-bincang dan hingga akhirnya Rafi memutuskan untuk mengakhiri telepon karena biayanya yang agak mahal di luar negeri sana. Sebelumnya aku mengucapkan selamat malam pada Rafi di sana, namun ternyata aku salah karena di sana adalah pagi hari.
     Aku dibuat malu olehnya. Aku sama sekali tidak ingat kalau waktu di sana pasti akan berbeda dengan waktu di Indonesia. Dan beberapa saat kemudian lampu di seluruh ruangan di rumahku menyala. Oh, untunglah lampu matinya tidak berkepanjangan. Aku memilih untuk langsung tidur di jam tujuh malam ini karena badanku yang sudah lelah dan kebetulan aku tidak memiliki tugas sama sekali.
***
     Kali ini hari Natal. Keluargaku merayakannya bersama dan kami saling bertukar hadiah. Aku merasa sangat senang sekali karena Ayah dapat libur di malam Natal ini dan Mama telah menyiapkan semuanya. Kami merayakan Natal di  Cartil atau Caringin Tilu di Bandung. Aku sangat gembira karena Ayah dan Mama dapat menyempatkan waktu berdua saja denganku. Dan aku harap keluargaku bisa seperti ini selamanya.
     “Bagaimana, pemandangannya baguskan?” Tanya Ayah yang kali itu menghampriku saat aku sedang melihat pemandangan.
     “Bagus, Ayah” “Ayah, makasih ya buat semua ini. Bulan ini bener-bener berkesan banget buat aku. Semoga aja tiap hari kita bisa kayak begini terus. Selalu bareng.”
     Ayah hanya tersenyum ke arahku dan mengarahkan matanya kembali ke pemandangan di depan kami. Mama juga berada di sampingku dan kami bertiga menyaksikan indahnya alam yang berada di kota Bandung bersama. Ketahuilah, aku sangat menyayangi kalian.
***
     Hari-hari sebelumnya aku lewati dengan agak cemas karena aku memikirkan pembicaraanku dengan Rafi waktu itu. Seminggu yang lalu Rafi meneleponku kembali untuk mengabariku bahwa besok dia akan menjemputku, dan kini tiba saatnya untuk hal itu.
     Dari balik jendela kamar kulihat mobil berwarna hitam terparkir di depan pagar rumahku dan aku melihat sosok lelaki itu keluar dari mobil dan berjalan ke arah rumahku. Aku telah mendengar bel rumahku berbunyi dan, itu pasti Rafi. Rafi telah bertemu dengan Mama dan saat aku menuruni tangga, ku lihat mereka sedang berbincang bersama di ruang tamu.
     Aku menemui mereka dan kami lagsung pergi setelah aku dan Rafi berpamitan pada Mama. Di mobil, aku terlihat sangat gugup dan belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku maupun Rafi. Rafi memulai dengan menanyakan kabarku lagi.
     “Apa lo enggak ngelihat gue yang udah dandan cantik gini buat lo?” Rafi tertawa sejenak dan dia bertanya.
     “Buat gue?” Tentu saja aku menjadi salah tingkah karena hal ini dan aku membenarkan perkataanku kalau ini semua untuk acara tahun baru yang dibuat oleh Rafi. Saat kami tiba, Bukit Bintang terlihat sepi dan hanya terlihat bintang di langit dan gemerlap lampu yang diperlihatkan oleh rumah-rumah.
     “Pemandangannya bagus.” Sambil tersenyum ku katakan hal itu pada Rafi. Namun tiba-tiba saja Rafi memanggil namaku ketika dia sudah berada di sampingku. Dan saat aku menoleh aku dibuat kaget oleh Rafi yang terlihat sangat serius.
     “Ada apa” Rafi memegang sebelah tanganku dan dia mengatakan sesuatu padaku.
     “I love you, Nad” Jantungku berdegup sangat kencang saat itu dan aku dibuat tidak percaya oleh Rafi.
     “Raf...” “Kamu mau engak jadi pacar aku?” Aku tidak sanggup berkata-kata lagi dan aku hanya memeluk Rafi. Seketika air mataku menetes dan dekapan dari Rafi benar-benar menolongku. Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan, dan ternyata ada banyak teman kami di sini.
     Saat ku lepas pelukan Rafi, aku melihat salah satu dari banyak orang yang bertepuk tangan dan Vita ada diantara mereka.
     “Vita..” Vita hanya tersenyum dan mengatakan bahwa dia telah mengikhlaskan aku dengan Rafi. Dia juga sudah tahu kalau Rafi sebenarnya menyukaiku dan sejak saat itu Vita mulai mencoba untuk melupakan Rafi. Aku sangat berterimakasih sekaligus meminta maaf pada Vita. Dibalik Vita yang sangat lucu, terdapat sifat yang dewasa pada dirinya.
     “Oh iya, kurang satu lagi” Ucap Rafi yang membuatku bingung saat itu. Rafi lalu mengeluarkan sebuah liontin dan memasangkannya pada leherku. Sekali lagi aku dibuat menangis oleh Rafi. Dan memang benar, aku tidak akan pernah melupakan malam tahun baru di tahun ini seperti yang Rafi katakan.
***
#3.632 kata

2013/12/23

Pensi SMPN 5 Semarang

    Oke, hari ini adalah 4 hari setelah acara Pentas Seni atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pensi yang diadakan di SMPN 5 Semarang. 
Hari itu bertepat pada tanggal 19 Desember kemarin, nih. Bener deh, acaranya itu seru banget.. Sampe sampe ada penggemarnya entah itu Pasto Band, Jawaica, SAL, atau kalau nggak penggemarnya Kempol Goreng deh yang pada nggak boleh masuk karena takutnya malah jadi rusuh nih. Di Pensi itu, juga ada murid yang ngisi acaranya. Ada cheerleaders, band sekolah yang ada banyak jumlahnya jadi aku lupa siapa aja.Dan MCnya itu ternyata alumni dari SMP 5 Semarang sendiri. Dan kalau nggak salah ada vokalis dari salah satu band di atas yang ternyata juga alumni dari SMP gue.
    Sebenernya sih itu acara seru banget, pake hujan gerimis segala lagi jadi bikin tambah seru.Tapi gue harus pulang karena pusing dan kalau ujannya deres malah bikin males. Kebetulan panitianya juga keren keren, kece kece dan juga cantik. Tapi gue bukan salah satu panitia karena gue sendiri masih kelas 7 yang bisa dibilang masih belum cukup umur buat jadi panitia -_-". Karena ini acara seru, rame, sampe di datengin alumni SMP gue, jadinya harus nyewa polisi dan kemanan lain buat njagain sekolah. Dan pastinya keamanan yang paling bagus di sekolah ya PKS. Makasih lho buat semuanya, jadinya berjalan lancar dan fans nya band itu nggak jadi masuk karena mereka yang nanti bakal bikin rusuh terus di jagain sama polisi dan para anggota PKS.
   Sebenernya kalau ada videonya sama sekedar foto aja, kalian pasti bisa membayangkan kayak apa sih ituh acara. Tapi gue enggak punya, jadi sory banget ya buat yang pengen tau, karena gue sendiri memang agak kekurangan bahan ._. Cuma yang pasti gue ucapan thanks buat semuanya karena acranya udah berjalan lancaaarrr banget dan hasilnya pun enggak kalah kerennya. Thanks Guys ;;)

2013/12/15

Lyrics Demi Lovato

"Neon Light
 



Baby, when they look up at the sky
We'll be shooting stars just passing by
You'll be coming home with me tonight
We'll be burning up like neon lights

Be still my heart 'cause it's freaking out, it's freaking out, right now
Shining like stars 'cause we're beautiful, we're beautiful, right now
You're all I see in all these places
You're all I see in all these faces
So let's pretend we're running out of time, of time

Baby, when they look up at the sky
We'll be shooting stars just passing by
You'll be coming home with me tonight
And we'll be burning up like neon lights

Baby, when they look up at the sky
We'll be shooting stars just passing by
You'll be coming home with me tonight
And we'll be burning up like neon lights

Neon lights
Neon lights
Neon lights
Like neon lights
Like neon lights

Be still my heart 'cause it's freaking out, it's freaking out, right now
Shining like stars ''cause we're beautiful, we're beautiful, right now
You're all I see in all these places
You're all I see in all these faces
So let's pretend we're running out of time, of time

Baby, when they look up at the sky
We'll be shooting stars just passing by
You'll be coming home with me tonight
And we'll be burning up like neon lights

Baby, when they look up at the sky
We'll be shooting stars just passing by
You'll be coming home with me tonight
And we'll be burning up like neon lights

Neon lights
Neon lights
Neon lights
Like neon lights
Like neon lights

Shining like stars 'cause we're beautiful, beautiful
You're all I see in all these places
You're all I see in all these faces
So let's pretend we're running out of time, of time

Like neon lights
Like neon lights

Be still my heart 'cause it's freaking out