Miracles in December
Mei telah berakhir,
dan kini bergantilah dengan Juni. Sepertinya hujan menyambut Juni dengan agak
kurang begitu menyenangkan dan hal itu tampak di benakku. Aku melihat hujan
yang mengalir deras pada jendela kamarku sambil ditemani dengan secangkir susu
coklat hangat dan sebuah novel yang kuletakkan di atas meja belajarku. Lampu
belajarkupun menyala menerangi kamarku yang terlihat begitu gelap bila tidak
dinyalakan lampu samasekali.
Sebenarnya aku menginginkan satu
permintaan di bulan ini karena aku sangat menyukai bulan Juni, jadi kuharap di
bulan yang aku sukai harapanku dapat terkabulkan. Derasnya hujan yang kulihat
melalui jendela kamar membuatku berkhayal yang tidak-tidak. Aku menginginkan
untuk mengakhiri hidup. Terdengar mengerikan, namun aku merasa hidupku kurang
beruntung seperti yang ada saat ini.
Mama sering memarahiku karena sifatku yang
seenaknya dan sering pulang agak malam. Ayah selalu saja berada di kantor, Ayah
selalu bangun ketika aku sudah berangkat ke kampus dan Ayah pulang disaat aku
sudah tidur karena Ayah pulang lebih larut dariku. Mungkin disaat aku tidak kuliah
pagi, aku bisa menyapa Ayah jika aku bisa bangun pagi. Tugasku selalu bertumpuk
dan aku sering menunda-nunda pekerjaan itu, tapi tugasku selalu selesai tepat
waktu. Yang menguntungkan hanyalah aku jarang sekali dimarahi oleh dosenku, dan
aku memiliki teman yang banyak dan mudah mengerti diriku.
Aku memperbaiki letak kacamataku dan mulai
membuka novel yang telah kusiapakan setelah aku selesai berkhayal dengan hal
yang sebenarnya sudah terjadi. Aku membaca sebuah novel romansa yang ditulis
oleh salah satu penulis favoritku. Kehidupan di dalam cerita novel tersebut
terlihat sangat menyenangkan karena happy endingnya yang sangat indah
menurutku. Satu setengah jam telah kuhabiskan waktuku untuk novel itu, dan
kurasa waktuku habis dengan kegiatan yang menguntungkan.
Ingin sekali aku menggarap tugas-tugasku
yang belum rampung itu, namun ada sesuatu yang menyuruhku untuk mengerjakan
tugas itu di luar rumah. Sesegera mungkin aku mengkemasi barang-barang yang
ingin aku bawa dan langsung ke luar rumah tanpa pamit pada Mama. Dan untung
saja hujan deras yang cukup sering melanda kota Bandung ini sudah berakhir.
“Mau pergi ke mana kamu sore-sore begini?”
Rupanya Mama mengetahui kepergianku dan mencoba untuk menginterogasiku.
“Mau ngerjain tugas bareng temen-temen,
Ma” Aku menjawab dengan sedikit kebohongan karena bisa-bisa Mama tidak
mempercayaiku.
“Serius, kamu mau ngerjain tugas bareng
temen-temen?” Tuhkan, aku berkata seperti itu saja Mama tidak mempercayaiku
apalagi kalau aku berkata bahwa aku akan pergi kuliah.
Sepertinya ini sangat keterlaluan. Aku
mencoba untuk meyakinkan Mama meski Mama berkata hal yang sama tiap kali aku
menjelaskannya. Dan satu lagi ocehan Mama yang membuatku sangat bosan, ‘jangan
pulang larut malam lagi ya, Nadia’. Kapan sih, Mama bisa mengerti kalau aku ini
sudah besar dan bisa menjaga diriku sendiri. Aku sangat bosan karena sejak Mama
melihat aku selalu pulang malam, Mama pasti akan berkata padaku untuk hati-hati
dan jangan sampai pulang malam meskipun aku sendiri selalu melakukannya. Dan
karena aku sudah terlalu sering merasa jengkel, ocehan Mama yang menurutku
menyebalkan itu kutanggapi dengan jawaban yang sangat singkat, ‘iya’.
Aku lalu memasuki mobilku dan menaruh
tasku berada di sampingku. Aku menghela nafasku sebentar kemudian menginjakan
kakiku pada pijakan gas mobil. Kujalankan mobilku untuk pergi ke salah satu
cafe di Bandung. Dan sesegera mungkin saat aku tiba, aku langsung membuka
laptopku dan menyalakan WiFi yang tersedia di cafe ini. Seorang pelayan
mengagetkanku karena kedatangannya yang tiba-tiba itu, dan saat itu aku baru
tersadar bahwa aku belum sempat memesan apapun di cafe tersebut.
Aku lebih memilih untuk memesan cofee karena aku tahu aku akan berada
agak lama dan sampai agak malam di cafe ini, dan aku juga memilih kentang
goreng keju sebagai pelengkapnya. Sudah hampir dua jam aku berada di cafe ini
sejak jam enam sore tadi, dan sekarang sudah jam delapan malam. Aku melihat
cangkir dan piring milikku yang tadi kugunakan sebagai tempat minum dan
makananku kini sudah lenyap tanpa sisa.
Aku masih ingin berada di sini, tapi aku
juga malas kalau harus mengerjakan tugas terus-terusan. Aku melihat tugasku
lagi di layar laptop dan kemudian berganti untuk membuka internet. Tugasku sudah
hampir selesai, jadi kuputuskan untuk istirahat sejenak dan memulai untuk
refreshing dengan melihat akun twitterku.
Ada banyak notifikasi yang diberitahukan di sana. Mungkin aku jarang membuka
akun twitterku ini, tapi aku lebih sering untuk meng-update status ketimbang melihat status orang lain.
Oke, di timeline milikku ada banyak sekali tweet dari beberapa percakapan yang dilakukan oleh teman-temanku.
Dan aku terkejut saat melihat salah satu tweet
yang ditulis oleh Rafi temanku. Tweet
itu berisi beberapa kalimat pernyataan selamat tinggal yang ditujukan oleh
beberapa temanku. Tak lama kemudian ada bunyi pemberitahuan di twitterku. Dari
Rafi rupanya.
Nad,
gue mau pamit sama lo soalnya gue mau pergi kuliah di luar negeri. Gue mohon lo
jaga diri lo baik-baik ya, gue pasti bakalan kangen banget sama lo. God bless~
@NadiaMelati. Itu adalah mention yang
diberikan Rafi untukku. Kata-katanya terdengar sangat berbeda dari kalimat yang
aku lihat untuk ditujukan oleh temanku yang lain. Aku belum sempat membalasnya,
malah sudah ada temanku yang membalas tweet
itu. Katanya cielah, pura-pura berdeham, pura-pura batuk, dan apalah itu.
Dan aku rasa, mereka sedang menyindirku dengan Rafi.
Rafi sama sekali tidak membalas mereka
meskipun aku tahu Rafi masih online saat itu. Aku bahkan juga tidak mau
membalasnya karena aku merasa malu akan balasan teman-teman untuk tweetnya Rafi itu. Aku lebih memilih
untuk menelepon Rafi saat itu juga.
Ku
ambil handphoneku dan kucari nama
‘Rafi’ pada kontak lalu aku tekan tombol hijau bergambar telephone. Terdengar
nada sambung pada Hpku itu dan tidak lama kemudian kudengar sebuah suara yag
familier di telingaku.
“Halo, Nad” Rafi telah menjawab pangilanku,
dan aku dibuat gembira olehnya. Akupun menjawabnya dengan agak gugup.
“Ha-ha-halo, Raf. Gue enggak nggangu lo ‘kan?”
Huft, aku merasa gembira bisa menyelesaikan sebuah kalimat untuk aku katakan
pada Rafi.
“Oh, enggak kok nyantai aja. Ngomong-ngomong
ada apa ya telepon gue ?”
“Oh, bagus deh kalau gitu. Jadi... gini,
gue udah liat mention lo yang lo
kirim ke gue. Lo serius mau pergi, Raf ?”
“Iya, sorry kalau gue dadakan kasih
tahunya. Ehm.. soal balesan dari temen-temen enggak usah lo peduliin ya”
Terdengar sedikit tawa malu dari Rafi di telepon. Dia pasti dibuat sangat malu
oleh teman-teman.
“Enggak apa-apa kok. Tenang aja, gue
enggak memperdulikan mereka. Oh iya, kenapa lo mau pergi? Kayaknya sebelumnya
enggak ada apa-apa deh, Raf.”
“Jadi, gue disuruh orangtua gue buat
kuliah di luar soalnya mereka pengin kasih yang terbaik buat gue. Dan mereka
juga pengin kalau gue itu jadi penerusnya Papa di perusahaannya. So, mau enggak
mau gue harus turutin keinginan mereka yang menurut gue juga berguna buat gue.”
Sekali lagi aku hanya bisa menanggapi penjelasan Rafi denga ber-oh, tapi aku
juga melanjutkan kalimatku.
“Terus, lo kapan mulai pergi dan kapan lo
balik lagi ke tanah air?”
“Gue bakalan berangkat besok siang. Kalau
soal balik, gue belum tahu soalnya gue bakalan nyesuaiin jadwal balik dengan
libur yang ada di sini.”
“Jadi, kira-kira lo bakalan balik setengah
tahun lagi dong?”
“Hm... bisa jadi.” Kini aku mulai agak
panik karena aku akan lama tidak bertemu dengan Rafi. Tapi, mengapa jantung ini
berdegup sangat kencang saat Rafi mengatakan hal itu. Dan, hatiku merasa sangat
sedih dengan semua ini. Tanpa sadar mataku langsung mengeluarkan tetesan air
yang ternyata adalah air mataku sendiri.
“Halo. Nadia, lo enggak apa-apa kan? Lo
nangis?” Aku agak sesenggukan waktu itu, jadi mungkin Rafi bisa mendengar
tangisanku dan berfikir bahwa aku sedang menangis. Dengan sekuat tenaga aku
menjawab pertanyaan Rafi bahwa aku tidak sedang menangis. Biasanya orang yang
menangis suaranya akan terlihat berbeda dari sebelumnya, jadi aku agak takut
kalau kedokku akan terbuka bahwa sebenarnya aku sedang menangis. Sekali lagi
Rafi bertanya apa aku tidak apa-apa, dan aku berusaha untuk meyakinkannya.
“Ya udah ya, Raf udah malem nih gue mau
tidur dulu. Night ya buat lo, nice dream. Semoga besok perjalanan lo bisa
lancar.” Rafi menjawabku dengan penuh terimakasih dan membalas salamku, walau
sebenarnya aku belum akan tidur. Bagaimana mungkin aku tidur di cafe, bisa-bisa
aku disangka tidak waras oleh banyak orang yang berada di cafe tersebut.
***
Sedih. Kenapa aku bisa sedih? Kenapa aku
bisa menangis sampai sesenggukan seperti ini? Aku tidak mungkin suka pada Rafi.
TIDAK TIDAK dan TIDAK. Rafi itu sahabatku dan aku tidak mungkin suka pada Rafi.
Ini pasti hanya perasaan sedihku saja karena Rafi akan meingalkan tanah air.
Jam sembilan malam tadi kuputuskan untuk
meninggalkan cafe karena aku merasa sudah cukup lelah saat itu. Tidak seperti
biasanya, biasanya aku bisa betah pergi hingga jam sepuluh dan tidur hingga
tengah malam. Mamapun juga merasa heran dengan kepulanganku yang Mama rasa
cukup cepat. Aku bahkan tertidur di jam sepuluh. Tepat saat aku telah tiba di
rumah.
Besokan
hari Minggu, Rafi yakin beneran mau pergi besok? Dia kok dadakan banget sih
bilangnya? Hih, bikin sebel aja. Lho, kok aku malah jadi memikirkan Rafi
sampai seperti ini, sih. Terserah Rafilah
kalu dia mau berangkat kapan itu kan urusan dia, mengapa jadi aku yang protes?Argh,
lebih baik aku tidur saja.
***
Pagi ini aku bangun kesiangan untuk hari
Minggu. Tidurkupun terasa tidak nyenyak tadi malam. Ini sangat terlihat jelas
kalau aku sedang memikirkan Rafi tadi malam. Ah, sudahlah tidak usah membahas hal itu lagi. Aku rasakan sinar
matahari yang masuk melewati celah gorden jendelaku dan ku putuskan untuk
membuka gorden jendelaku. Aku melihat pemandangan di luar sana. Ada banyak
burung yang berterbangan ke sana ke mari. Dan bunga-bungapun terlihat banyak
yang bermekaran pagi ini.
Aku berasa penatku telah hilang semua dan
terganti oleh pemandangan ini. Rumahku memiliki cukup banyak tanaman, jadi
tidak salah kalau jadi ada banyak burung di halaman rumahku. Sudah cukup
melihat ini semua, waktunya aku bersiap untuk keluar rumah. Keluar rumah lagi?
Mungkin kau akan banyak bertanya jika belum tahu seperti apa aku. Aku suka
traveling. Jadi, karena aku belum memiliki banyak uang untuk pergi sampai
tempat yan cukup jauh aku putuskan untuk sering-sering pergi keluar rumah
mencari tempat baru.
Sekarang jam dua siang. Mungkin kalian
tidak tahu bahwa tadi aku bangun jam sebelas siang. Dan aku memutuskan untuk
pergi agak sore karena cuaca yang menyenangkan di jam seperti ini. Aku harap
Mama tidak mengetahui kepergianku yang sering membuat aku pusing karena pasti
Mama akan mengomel padaku.
Mobil sudah siap, kunci mobil sudah di
tangan, dan barang-barang yang akan ku bawa sudah ku taruh di tasku. Oke,
tinggal masuk ke mobil dan menginjak gas lalu aku keluar dari rumah ini. Hal
itu sudah berhasil ku lakukan dan kini aku harus pergi ke mana. Pikiranku masih
saja seperti itu hingga aku sampai di lampu merah perempatan pertama yang
jaraknya agak jauh dari rumahku.
Tiba-tiba saja Hpku berdering. Awalnya aku
pikir itu Mama, tapi tiap kali Mama meneleponku tidak pernah sampai beberapa
kali. Saat aku ingin mengangkatnya, telepon itu justru berhenti. Kulihat pada
daftar panggilan ternyata Rafi yang meneleponku. Ada apa Rafi meneleponku? Setelah berfikir agak panjang aku
memutuskan untuk membalas Rafi dengan memeberikannya sebuah pesan singkat.
Raf,
lo ngapain telepon gue? Sambil melanjutkan perjalanan, aku juga mencoba
untuk menelepon temanku, Vita untuk menemaniku pergi. Aku bertanya pada Vita
apakah dia bisa menemaniku sekarang. Untunglah dia bisa menemaniku dan sekarang
aku akan menuju ke rumah Vita untuk menjemputnya.
Hpku berdering lagi. Ada pesan masuk
rupanya, itu pasti dari Rafi. Di dalam pesan singkat itu Rafi menuliskan kalau
dia akan segera berangkat ke bandara. Dan aku hanya membalasnya dengan singkat
kalau dia lebih baik berhati-hati di jalan dan semoga sukses di sana. Oh iya,
tidak lupa aku mengirim pesan tambahan yang berisi agar dia tidak melupakan aku
dan teman-teman di sini.
Aku sudah sampai di rumah Vita dan aku
masuk ke dalam rumahnya. Tapi sepertinya dia telah bersiap di depan rumahnya.
Dia menyapaku dan aku juga balas menyapanya. Mungkin Hpku sedang berdering
sekarang karena aku tidak membawa Hpku ikut serta menemui Vita.
“Hey, kita mau ke mana sih, Nad?”
“Gue Cuma pengin pergi aja kok, gue males
di rumah. Jadi gue cari temen buat nemenin gue.”
“Oh, gitu. Ya udah yuk pergi” Kami
memasuki mobil bersama dan aku menyuruh Vita untuk menyetir mobilku. Awalnya
dia tidak mau tapi aku memohon dengan wajah agak dibuat melas dan akhirnya Vita
luluh juga terhadapku.
“Pantes lo banyak yang suka, muka lo melas
banget soalnya. Jadi para cowok itu pada kasihan sama lo.” Vita tertawa saat
mengatakan hal itu padaku. Dan memasang wajah penuh kemenangan.
“Enak aja lo. Mereka itu suka sama gue
karena gue imut tau bukan melas.” Kini aku yang ganti tertawa karena ocehanku
sendiri. Dan Vita terlihat geli denganku.
“Iya iya. Yang mentang-mentang punya
lesung di pipinya terus pake kacamata yang menurut lo itu jadi kelihatan imut.
Idih samai-sampai para cowok jadi banjir air liur gara-gara lo.” Aku memandangi
Vita saat itu dan saat Vita ikut menoleh ke arahku kami tertawa bersama.
“Ha-ha-ha. Apaan sih lo, enggak segitunya
juga kali, Vit. Ha-ha-ha.” Vita juga terlihat menyembunyikan tawanya dari
hadapanku. Memang dasar sifat Vita yang ku kenal sejak aku SMA tidak pernah
hilang hingga sekarang. Setelah kami berbincang beberapa saat aku baru ingat
kalau aku memiliki sebuah pesan yang pasti telah dibalas oleh Rafi.
Rafi membalas pesan dariku yang membuat
aku tersenyum-senyum sendiri dan membuat Vita terheran dengan sikapku. Dia
bertanya padaku apa yang sedang ku lakukan, tapi aku hanya berkata tidak
apa-apa padanya yang pasti membuatnya ingin merebut Hpku dari genggamanku.
Kebetulan saat itu sedang lampu merah dan hal ini digunakan Vita untuk
melaksanakan rencananya, mengambil HPku.
Vita berhasil mengambilnya dan dia membaca
pesanku dengan Rafi. Vita lalu tersenyum dan menyindir ku dengan Rafi.
“Ehem Ehem... Punya hubungan apa lo sama Rafi? Aku menjawab bahwa aku
tidak memiliki hubungan apapun dengan Rafi dan aku berusaha untuk mengambil
Hpku kembali dari genggaman Vita.
TIINN
TIINN... Suara klakson itu terdengar jelas olehku dan Vita. Ternyata lampu
yang tadinya merah sudah berubah menjadi hijau. Vita sesegera mungkin menginjakan
kakinya pada pijakan gas dan mengarahkan mobilku ke tempat yang akan kami
lalui. Kamipun lalu tertawa bersama. Hanya karena HPku jadilah seperti ini.
Hm.. bukan karena HP, tapi karena Rafi.
Kami diam beberapa saat dan aku lalu ingin
berkata sesuatu pada Vita.
“Ehm.. gue mau ngomong sesuatu, Vit”
“Ehm.. gue mau ngomong sesuatu, Nad” Kami
mengatakan hal itu secara bersamaan dan akhirnya kami tertawa bersama. Kamipun
langsung menyuruh salah satu diantara kami untuk berbicara terlebih dahulu. Dan
akhirnya aku yang harus berbicara dulu karena desakan dari Vita.
“Vit, lo udah tahu belum kalau Rafi mau
pindah kuliah ke luar negeri?” Vita terlihat kaget saat aku membicarakan hal
itu. Mungkin dia memang belum tahu akan kepergian Rafi yang terbilang mendadak
ini.
“Lho, kok bisa sama sih? Gue tadi juga
pengin ngomongin hal ini ke lo, Nad.” “Iya, gue udah tahu. Tapi gue tahu bukan
dari si Rafi tapi statusnya temen-temen di socmed,
Nad.”
“Hah? Lo enggak di kasih tahu sama Rafi,
Vit?” Vita menggeleng, dan wajahnya terlihat sangat kecewa. Dan aku rasa wajah
kekecewaan itu akan diberikan Vita untuk Rafi.
Vita mengatakan seluruh kekecewaannya
padaku. Dia tidak menyangka kalau Rafi sampai seperti itu pada temannya sendiri
yaitu Vita. Aku mencoba menghibur Vita dengan mengatakan kalau mungkin saja
Rafi hanya lupa karena temannya bukanlah hanya Vita. Tapi Vita mengelaknya
karena kami berdua ini sangat dekat, jadi pasti Rafi akan dengan mudah
mengingat kami berdua karena kedekatan kami.
Dan satu lagi pernyataan Vita yang
membuatku kaget saat mendengarnya adalah, Vita menyukai Rafi.
***
Aku sama sekali tidak menyangka kalau Vita
menyukai Rafi. Dia bahkan tidak pernah bercerita padaku. Saat kami berdua pergi
bersama, Vita mencurahkan semua isi hatinya kepadaku dan aku hanya bisa mendengarkannya.
Vita benar-benar menyukai Rafi, dia bahkan mengetahui segalanya tentang Rafi.
Sedangkan aku yang juga sahabatnya saja hanya mengetahui satu hal yang tidak
terlalu besar dari Rafi, yaitu kepindahannya ke luar negeri.
Aku merasa sangat bersalah ketika Vita
mendapatkan HPku ketika perjalanan di dalam mobil. Vita pasti menutupi
kecemburuannya dariku. Aku tahu, pasti dia tidak mau membuatku marah kalau
misalkan aku memang sedang pacaran ataupun menyukai Rafi. Tapi setelah Vita
tahu kalau aku hanyalah sahabat Rafi, dia menyatakan segalanya padaku.
Dia bahkan tidak malu menyatakan kalau
sebenaranya dia terbakar api cemburu ketika melihat pesan singkat yang aku dan
Rafi kirim. Tapi, maafkan aku Vita. Sepertinya aku juga menyukai Rafi meskipun
aku belum tahu apakah perasaan ini memang untuk Rafi atau hanyalah
kekhawatiranku pada Rafi karena dia akan pergi ke luar negeri.
***
6 Bulan kemudian...
Bulan ini adalah bulan Desember. Dan pastinya hujan yang deras akan
lebih sering mengguyur kota Bandung ini. Hari awal pada bulan inipun sudah
disambut dengan gerimis yang cukup lama mengguyur kota Bandung. Aku baru saja
pulang dari kampus sore ini karena aku kuliah siang.
Rumah terlihat sepi saat aku kembali dari kampus. Gerimis yang disertai
mendung dengan warna abu-abu pekat ini membuatku merinding saat aku memasuki
rumah menggunakan kunci cadangan yang diberikan Mama padaku karena aku sering pulang
malam. Lampu di dalam rumahpun belum dinyalakan, apalagi lampu teras rumah.
Tanpa basa-basi aku langsung masuk ke kamarku tanpa menyalakan
sedikitpun lampu kecuali lampu di dalam kamarku sendiri yang akan kunyalakan.
Tapi, saat tombol lampu kunyalakan lampu kamarku sama sekali tidak mau menyala.
Oh, menyebalkan. Sekarang mati lampu!
Kalau begini caranya apa yang harus dilakukan
dalam situasi mati lampu? Dalam kegelisahanku
tiba-tiba saja HPku berdering. Aku terkejut saat melihat nama yang tertera di
HPku. Rafi?
“Halo. Ini Nadia
‘kan?”
“Halo, Raf. Iya gue Nadia” Hatiku berdegup agak kencang ketika aku
mendengar suara Rafi di seberang sana.
“Seneng deh kalau ini masih nomor lo. Oh iya gimana kabar lo di sana?
Baik ‘kan lo?”
“Lo kali yang gimana kabarnya. Gila, gue seneng banget lo telepon gue
sekarang. Lama ya kita enggak ketemu” Jujur, aku benar-benar sangat bahagia
waktu Rafi menanyakan kabarku. Dan aku merasa lega dia masih menyimpan nomorku
setelah setengah tahun ini.
Rafi menceritakan rencana kepulangannya ke tanah air bulan ini. Dan pada
tahun baru nanti Rafi akan menyewa Bukit Bintang di Bandung sebagai tempatnya.
Aku agak tidak percaya pada perkataan Rafi. Dia bilang akan ada banyak kejutan
di bukit itu.
“... Dan bahkan kamu enggak akan pernah melupakan malam tahun baru yang
akan datang nanti, Nad” Aku agak tertawa mendengar perkataan Rafi. Bagaimana
bisa aku tidak melupakannya kalau malam tahun baru yang sering kali aku rayakan
dengan kemeriahan pasti akhirnya aku melupakannya. Beberapa saat kami
berbincang-bincang dan hingga akhirnya Rafi memutuskan untuk mengakhiri telepon
karena biayanya yang agak mahal di luar negeri sana. Sebelumnya aku mengucapkan
selamat malam pada Rafi di sana, namun ternyata aku salah karena di sana adalah
pagi hari.
Aku dibuat malu olehnya. Aku sama sekali tidak ingat kalau waktu di sana
pasti akan berbeda dengan waktu di Indonesia. Dan beberapa saat kemudian lampu
di seluruh ruangan di rumahku menyala. Oh,
untunglah lampu matinya tidak berkepanjangan. Aku memilih untuk langsung
tidur di jam tujuh malam ini karena badanku yang sudah lelah dan kebetulan aku
tidak memiliki tugas sama sekali.
***
Kali ini hari Natal. Keluargaku merayakannya bersama dan kami saling
bertukar hadiah. Aku merasa sangat senang sekali karena Ayah dapat libur di
malam Natal ini dan Mama telah menyiapkan semuanya. Kami merayakan Natal
di Cartil atau Caringin Tilu di Bandung.
Aku sangat gembira karena Ayah dan Mama dapat menyempatkan waktu berdua saja
denganku. Dan aku harap keluargaku bisa seperti ini selamanya.
“Bagaimana, pemandangannya baguskan?” Tanya Ayah yang kali itu
menghampriku saat aku sedang melihat pemandangan.
“Bagus, Ayah” “Ayah, makasih ya buat semua ini. Bulan ini bener-bener
berkesan banget buat aku. Semoga aja tiap hari kita bisa kayak begini terus.
Selalu bareng.”
Ayah hanya tersenyum ke arahku dan mengarahkan matanya kembali ke pemandangan
di depan kami. Mama juga berada di sampingku dan kami bertiga menyaksikan
indahnya alam yang berada di kota Bandung bersama. Ketahuilah, aku sangat
menyayangi kalian.
***
Hari-hari sebelumnya aku lewati dengan
agak cemas karena aku memikirkan pembicaraanku dengan Rafi waktu itu. Seminggu
yang lalu Rafi meneleponku kembali untuk mengabariku bahwa besok dia akan
menjemputku, dan kini tiba saatnya untuk hal itu.
Dari balik jendela kamar kulihat mobil
berwarna hitam terparkir di depan pagar rumahku dan aku melihat sosok lelaki
itu keluar dari mobil dan berjalan ke arah rumahku. Aku telah mendengar bel
rumahku berbunyi dan, itu pasti Rafi. Rafi telah bertemu dengan Mama dan saat
aku menuruni tangga, ku lihat mereka sedang berbincang bersama di ruang tamu.
Aku menemui mereka dan kami lagsung pergi
setelah aku dan Rafi berpamitan pada Mama. Di mobil, aku terlihat sangat gugup
dan belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku maupun Rafi. Rafi
memulai dengan menanyakan kabarku lagi.
“Apa lo enggak ngelihat gue yang udah
dandan cantik gini buat lo?” Rafi tertawa sejenak dan dia bertanya.
“Buat gue?” Tentu saja aku menjadi salah
tingkah karena hal ini dan aku membenarkan perkataanku kalau ini semua untuk
acara tahun baru yang dibuat oleh Rafi. Saat kami tiba, Bukit Bintang terlihat
sepi dan hanya terlihat bintang di langit dan gemerlap lampu yang diperlihatkan
oleh rumah-rumah.
“Pemandangannya bagus.” Sambil tersenyum
ku katakan hal itu pada Rafi. Namun tiba-tiba saja Rafi memanggil namaku ketika
dia sudah berada di sampingku. Dan saat aku menoleh aku dibuat kaget oleh Rafi
yang terlihat sangat serius.
“Ada apa” Rafi memegang sebelah tanganku
dan dia mengatakan sesuatu padaku.
“I love you, Nad” Jantungku berdegup
sangat kencang saat itu dan aku dibuat tidak percaya oleh Rafi.
“Raf...” “Kamu mau engak jadi pacar aku?”
Aku tidak sanggup berkata-kata lagi dan aku hanya memeluk Rafi. Seketika air
mataku menetes dan dekapan dari Rafi benar-benar menolongku. Tiba-tiba terdengar
suara tepuk tangan, dan ternyata ada banyak teman kami di sini.
Saat ku lepas pelukan Rafi, aku melihat
salah satu dari banyak orang yang bertepuk tangan dan Vita ada diantara mereka.
“Vita..” Vita hanya tersenyum dan
mengatakan bahwa dia telah mengikhlaskan aku dengan Rafi. Dia juga sudah tahu
kalau Rafi sebenarnya menyukaiku dan sejak saat itu Vita mulai mencoba untuk
melupakan Rafi. Aku sangat berterimakasih sekaligus meminta maaf pada Vita.
Dibalik Vita yang sangat lucu, terdapat sifat yang dewasa pada dirinya.
“Oh iya, kurang satu lagi” Ucap Rafi yang
membuatku bingung saat itu. Rafi lalu mengeluarkan sebuah liontin dan
memasangkannya pada leherku. Sekali lagi aku dibuat menangis oleh Rafi. Dan
memang benar, aku tidak akan pernah melupakan malam tahun baru di tahun ini
seperti yang Rafi katakan.
***
#3.632
kata
